Dewi Coryati Sindir Pemda Lamban Ajukan Kuota PPPK

  • Whatsapp

BENGKULU – Anggota DPR RI Dewi Coryati menyesalkan masih ada kabupaten yang lamban mengajukan kuota guru Pegawai Dengan Perjanjian Kerja (PPPK) kepada KemenPAN-RB. Dia mengkhawatirkan kuota tersebut tidak akan terakomodir. Padahal anggaran pembayaran gaji guru PPPK dan tunjangannya diakomodir melalui APBN.

“Sudah diusulkan yang Bengkulu Selatan, tapi kalau sudah ditutup pintunya (habis masa pengajuan) mau gimana lagi,” kata Dewi yang berkunjung ke Bengkulu, Selasa (4/5). Dewi mengatakan formasi guru PPPK sangat dinanti para guru, khususnya yang telah mengabdi puluhan tahun sebagai tenaga honorer.

Bacaan Lainnya

Ditambah lagi, Pemda tidak perlu pusing karena pemerintah pusat telah menyiapkan anggaran sebesar Rp1,4 triliun untuk membayar gaji dan tunjangan guru PPPK. “Gaji dan tunjangannya sudah disiapkan dalam APBN. Rugi kalau sampai kabupaten tidak mengajukan formasi,” tegas Dewi.

Pemerintah pusat juga menyiapkan ruang agar para calon guru PPPK yang akan mendaftar dengan memberikan berbagai kemudahan. Khususnya bagi guru yang sudah berusia lebih dari 40 tahun, ditakutkan kalah bersaing dengan sarjana berusia muda.

Salah satunya memberikan kesempatan tes sebanyak tiga kali. Bagi yang tidak lulus pada tes pertama dapat mengikuti tes kedua hingga ketiga. Selain itu, para guru juga diberikan pelatihan dalam rangka persiapan menghadapi tes. “Ini kemudahan yang diberikan, jangan sampai tidak ada yang ikut tes,” tegas Dewi.

Terpisah, Bupati BS Gusnan Mulyadi mengaku optimis kuota guru yang diajukan sebanyak 442 orang dapat diakomodir KemenPAN-RB. Meskipun kuota tersebut baru diajukan pada 16 April lalu, atau hari terakhir pengajuan.

“Kalau kita optimislah, karena kuotanya di pusat belum tercukupi,” kata Gusnan yang tengah berada di kantor BPK RI Perwakilan Bengkulu, kemarin. Namun, Gusnan mengaku kecewa dengan perangkatnya jika nanti usulan ini tidak sampai diakomodir oleh pusat. Pasalnya Ia mengaku ikut memperjuangkan agar tenaga guru PPPK dapat diakomodir.

“Tentu saya kecewa dengan perangkat, kenapa sampai lamban. Saya sudah berusaha keras, tapi Bengkulu Selatan sendiri yang tidak ada formasinya. Mudah-mudahan tetap diakomodir,” tutup Gusnan. (cia)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *